FEATURES : THE UNDER AGE WEDDING TRADITION
Tradisi pernikahan usia
dini dewasa ini masih terus berlangsung, terutama di beberapa daerah seperti
Madura yang masih memegang teguh tradisi yang berlandaskan opini bahwa
perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, sehingga ketakutan bahwa anak
perempuan mereka tidak mendapatkan jodoh ketika dewasa nanti. Hal itulah yang
menyebabkan pernikahan usia dini menjadi hukum adat di daerah tersebut, suatu
hukum yang tidak
tertulis yang diyakini dan dianut oleh masyarakat adat yang tinggal di daerah
tersebut. Bukanlah suatu hal yang mustahil bahwa pernikahan dini tumbuh dan
berkembang meskipun dengan atau tanpa pemaksaan.
Menilik dari hukum adat
tersebut, muncullah berbagai pertanyaan di benak kita yang non masyarkat adat
Madura. Apabila pernikahan usia dini akan memberikan dampak negatif bagi tumbuh
kembang anak (bagi anak yang ingin lebih mendalami pendidikan) tetap didukung
oleh para tokoh masyarakat di sana? Lalu, bagaimanakah anak yang dipaksa harus
mengikuti hukum adat berupa pernikahan muda ini? Bahagiakah mereka atau
sebaliknya? Juga, bagaimana dengan masa depan anak-anak yang sesungguhnya lebih
memilih untuk melanjutkan pendidikan dari pada menikah? Tidak adakah cara atau
solusi untuk melepaskan diri dari hukum adat tersebut?
Sebut saja namanya
Kanaya. Gadis manis yang masih duduk di tingkat SMP atau MTs kelas 9 di salah
satu Madrasah di Madura. Sikapya yang manis, pemalu, dan cerdas membuatnya
banyak disukai teman-teman sejenisnya atau bahkan yang lawan jenis. Dengan
berbekal kemampuan akademis yang lumayan bagus, gadis manis ini berangan-angan
jika suatu hari dapat melanjutkan pendidikan yang kebih tinggi bahkan bisa
sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Cita-cita ini terus mengakar di jiwanya
demi melihat orang tuanya yang seorang pedagang makanan dan harus merantau demi
mengumpulkan pundi-pundi uang untuk keberlangsungan hidupanya dan kakek
neneknya yang ada di Madura. Bahkan rela meninggalkan Kanaya dan kakaknya yang
sudah menikah di Madura.
Namun rupanya, kecerdasan
akademis gadis manis ini tidak dapat menggugah rasa iba neneknya untuk
membiarkannya melanjutkan pendidikan. Nenek tercintanya diam-diam telah
menjodohkannya dengan tetangganya yang memang sudah sejak lama menyukai Kanaya.
Kanaya mengetahui rahasia ini ketika dengan cerdiknya dia menguping pembicaraan
neneknya yang menelpon dengan diam-diam orang yang akan mengkhitbahnya
(melamarnya). Betapa terkejutnya Kanaya ketika tahu bahwa dalam beberapa hari
lagi keluarga dari pihak laki-laki akan datang melamarnya di usianya yang masih
15 tahun. Dia tidak
dapat membayangkan bahwa mimpi dan cita-citanya akan hancur bahkan sebelum dia
merasakan bangku SMA.
Tidak ada yang bisa
dilakukan Kanaya selain hanya menangis. Dia segera menelpon orang tuanya yang
bekerja di Kota Sidoarjo. Dia utarakan semua kekesalan hatinya dan
mimpi-mimpinya untuk terus bisa sekolah. Meskipun sudah ditenangkan oleh
ibunya, Kanaya tetap tidak tenang karena dia yakin bahwa neneknya akan tetap
berseikukuh untuk menjodohkannya. Akhirnya Kanaya pun memilih lari ke rumah tetangganya.
Dia tidak ingin nanti malam dikhitbahkan dengan lelaki itu. Dia msih ingin sekolah. Dia masih
ingin meraih mimpi dan cita-citanya. Kanaya memahami semua demi kebaikannya,
akan tetapi bukan begini yang dia inginkan, dia akan menikah tapi setelah dia
mencapai level tertinggi bagi hidupnya dengan title Sarjana.
Nenek dan kakaknya yang
geram mengetahui Kanaya memilih lari di hari ketika dia akan di khitbah pada
malamnya langsung menyeret Kanaya pulang. Mereka mengurung Kanaya di kamarnya
dan menguncinya dari luar. Seharian Kanaya tidak makan. Dia menagis terus
menerus memohon agar kakek nenek dan kakaknya tidak menjodohkannya terlebih
dahulu. Namun apalah daya tangisan kanaya. Mereka teguh dengan pendirian dan
kepercayaan mereka. Hingga malam harinya, datanglah keluarga lelaki yang akan
mengkhitbahnya. Mereka menyerahkan sejumlah perhiasan sebagai tanda jadi
mengikat Kanaya. Namun Kanaya memilih bersembunyi di dapur dan tidak menemui
tamu dari keluarga laki-laki itu. Hingga Kanaya menyadari alasan mengapa kakek
nenek dan kakaknya bersikukuh menjodohkannya dengan lelaki itu, karena dia dari
keluarga terpandang di masyarakat ini. Ya Allah, demi mendapatkan ketenaran,
haruskah kakek nenek dan kakaknya mengorbankan Kanaya yang masih kecil untuk
menikah. Haruskah mereka rela melihat Kanaya menderita demi meraup keuntungan?
Entah apa yang ada di benak mereka sehingga ikhlas melihat Kanaya meneteskan
air mata dan membunuh hati Kanaya secara perlahan dengan cara pernikahan di
usia dini.
Meski Kanaya menolak dan
harus bertengkar dengan kakek nenek dan kakaknya, tetapi usaha itu tidak berhasil. Keteguhan
dan kekerasan hati keluarganya benar-benar melukai batin Kanaya. Tidak ada yang bisa dia
lakukan selain do’a, do’a dan do’a. berharap llah akan menunjukkan keajaibanNYA
dan membawa Kanaya lari dari sini. Tuhan yang menentukan semua rencana yang
dibuat oleh manusia. Tepat 1 minggu setelah kejadian itu, ayah Kanaya datang ke
rumah kakek neneknya. Kanaya pun langsung memeluk dan menangis sejadi-jadinya
karena tidak ingin dinikahkan ketika dia lulus SMP nanti. Kanaya mencari ibunya
namun kesedihan dan rasa iba ibunya melihat kesedihan Kanaya membuat ibunya
memilih tidak ikut. Ayah Kanaya yang tidak bisa melihat kesedihan anaknya pun
akhirnya luluh. Dia pun ikut bersedih dengan apa yang dialami Kanaya. Satu ide
pun muncul di benak ayahnya.
Ayah Kanaya pun
memberanikan diri berbicara dengan kakek nenek Kanaya bahwa dia akan mengajak
Kanaya ikut ke Sidoarjo. Benar seperti dugaanya, kakek nenek Kanaya sangat
marah dengan keputusan ayah Kanaya. Meskipun kemarahan kakek nenek Kanaya
menghalangi, namun ayah Kanaya tetap mengajak Kanaya ke Sidoarjo beberapa hari
agar Kanaya bisa menenangkan diri. Kanaya sangat bersyukur memiliki orang tua
yang snagat pengertian dan menyayanginya. Ayah Kanaya sama sekali tidak peduli
dengan kemarahan kakek nenek Kanaya hingga dia mengembalikan semua barang yang
telah digunakan untuk mengkhitbah Kanaya kepada keluarga pihak laki-laki.
Biarlah keluarganya berbicara apa dia tidak peduli. Biarlah masyarakat
menggunjing apa saja asal Kanaya bisa bahagia. Akhirnya, pergilah Kanaya ke
Sidoarjo selama 1 minggu untuk menenangkan diri sebelum Ujian Nasional tingkat
SMP dimulai.
1 minggu pun berlalu dan
Kanaya pun bisa tersenyum lega melihat bagaimana masyarakat Sidorja dalam
memandang pendidikan sebagai hal yang utama. Dia ingin tetap tinggal dikota
ini, tapi Ujian Nasional semakin dekat, terpaksa dia kembali ke Madura, di
rumah dimana dia tidak mendapat ketenangan sama sekali sekarang. Hari pun
berganti. Minggu pun berlalu. Tetapi keteguhan hati kakek nenek dan kakak
Kanaya tidak berubah sama sekali. Gunjingan para tetangga semakin terdengar
kereas dan menyakitkan. Bahkan ejekan, umpatan didapatkan Kanaya, tapi hal itu
semua tidak membuat Kanaya mundur. Dia tetap tegak melihat ke depan karena yakin
keputusannya tidak salah dan bukan hal yang memalukan. Dia hanya ingin belajar demi masa depannya
yang lebih cerah. Perlakuan keluarga dan tetangganya dianggap sebagai ujian
yang pasti akan sanggup dihadapinya. Ternyata keberhasilan Kanaya dalam menyelesaikan
Ujian Nasional juga mengubah tidak keputusan kakek nenek Kanaya yang ingin
tetap menikahkannya. Meski Kanaya berharap keberhasilannya dalam menyelesaikan
UN dengan hasil yang cukup memuaskan akan menyentuh hati neneknya untuk
membiarkannya melanjutkan sekolah, tetapi itu tidak berhasil. Kekerasan neneknya membuat
Kanaya tidak berdaya dan memutuskan untuk pergi dari rumah neneknya. Dia pergi
bukan karena dia tidak sayang neneknya tetapi dia pergi dengan satu keyakinan bahwa dia
akan bisa mencapai cita-citanya.
Kanaya pun akhirnya pergi
ke Sidoarjo setelah menyelesaikan MTs di Madura. Di Kota inilah dia melanjutkan
sekolahnya sampai sekarang. Meski waktu 2 tahun telah berlalu, namun semua
kejadian itu masih membekas di hati Kanaya. Bahkan Kanaya enggan pulang ke
rumah kakek neneknya untuk sekedar berkunjung karena sikap kakek nenek Kanaya
masih belum bisa menerimanya.
Inilah sepenggal kisah
sahabatku yang tegar dan kuat. Kisahnya akan menjadi refleksi bagiku bahwa
apapun masalah yang datang menghadang tidak akan mampu menghentikanku untuk
meraih masa depanku. Aku akan mengukir sejarahku sendiri.
Komentar
Posting Komentar